Keluarga Pasien Harus Proaktif Komunikasi dengan Petugas Kesehatan

1409
Keluarga Pasien Harus Proaktif Komunikasi dengan Petugas Kesehatan

Meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di daerah, apalagi di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), bukanlah sebuah pekerjaan ringan dan mudah. Tak cukup mengandalkan kerja keras dan pengorbanan petugas kesehatan, tetapi juga harus ada peran serta dari masyarakat, terutama lagi keluarga terdekat pasien untuk proaktif berkomunikasi dengan petugas kesehatan.  

Setidaknya, itulah yang ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatera Barat, Lahmuddin Siregar. “Karena kondisi geografis yang sulit serta cuaca yang ekstrem, kita seringkali menghadapi kendala yang tidak mudah. Sulit memproses rujukan ke faskes tingkat lanjut,” ujarnya kepada geliatnusantara.com, melalui sambungan seluler, Sabtu (5/9) sore.

Sehingga dari hal tersebut, sambungnya, pelayanan bersifat jemput bola yang dilakukan Dinkes Mentawai, menjadi kurang efektif dan efisien. “Di sinilah dituntut peran serta masyarakat seperti keluarga terdekat pasien, untuk lebih proaktif dan berkomunikasi dengan petugas kesehatan,” imbuhnya.

Patut diketahui, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, terdiri atas 4 pulau besar, yakni Pulau Siberut, Pulau Sipora, Pulau Pagai Utara, dan Pulau Pagai Selatan. Kabupaten Mentawai beribukota di Tuapejat, Sipora. Kabupaten yang dipimpin oleh Bupati Yudas Sabaggalet ini, berjarak kurang lebih 153 kilometer dari Kota Padang, baru dapat ditempuh melalui jalur laut. Begitu juga antarpulau di Mentawai. Semua menggunakan transportasi laut.   

Menurut Lahmuddin, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mentawai dalam upayanya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sebenarnya sudah baik. Hal ini ditunjukkan dengan banyaknya program dan kegiatan yang dibuat serta dilaksanakan Dinas Kesehatan Mentawai.

Kegiatan dan program tersebut, diantaranya, meningkatkan promosi kesehatan di setiap wilayah kerja puskesmas, kunjungan rumah bagi ibu hamil (bumil), ibu bersalin (bulin), ibu nifas (bufas), maupun bayi baru lahir. Kemudian, pelaksanaan kelas ibu hamil, P4K termasuk rujukan kasus ibu resiko tinggi, dan penyelenggaraan jampersal. “Prioritas program adalah ibu maternal dengan resiko tinggi. Tujuannya, menurunkan angka kematian ibu dan anak,” jelasnya.

Dinkes Mentawai juga melakukan inovasi program, antara lain, inovasi berupa 7 Pesan SIKEREI sebagai pesan kesehatan berbasis lokal, yang diambil dari akronim SIKEREI.    

Inovasi meliputi; Stop buang air besar sembarangan; Istirahat yang cukup; Konsumsilah garam beryodium, makanan yang beraneka ragam, sayur dan buah-buahan; Enyahkan asap rokok dan kasus gizi buruk; Rajinlah berolahraga secara teratur, jauhi narkoba dan hindari seks bebas; Eliminasi penyakit kaki gajah dan penyakit malaria serta temukan, obati sampai sembuh penyakit TB; dan, Ingatkan keluarga anda untuk menimbang balita di Posyandu setiap bulan, pemberian ASI saja kepada bayi sampai umur 6 bulan, serta persalinan oleh tenaga kesehatan.

Selain itu, ada juga upaya menekan angka kematian ibu hamil dan bayi dengan melakukan pembentukan kelompok masyarakat melalui inovasi TERALI HATI SIPUSURUKET (Tetangga dan Keluarga Peduli Ibu Hamil dan Resiko Tinggi) dan MEINAN BIDANKU (Menolong Persalinan Oleh Bidanku).

Maksud dan tujuan dari TERALI HATI SIPUSURUKET adalah membangun kesadaran ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan secara rutin, pergi ke tenaga kesehatan bila terjadi bahaya kehamilan, bersalin difasilitas pelayanan kesehatan dan mengatur jarak kehamilan dengan ber-KB. Kemudian, juga menekankan pada pentingnya peran suami, keluarga serta masyarakat sebagai pendamping ibu hamil selama masa kehamilan hingga persalinan.

 Adapun inovasi MEINAN Bidanku adalah Kemitraan Bidan dan Dukun. Kemitraan bidan dan dukun merupakan salah satu program sebagai upaya untuk meningkatkan cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan.

Dinkes Mentawai juga melakukan inovasi program, antaralain, inovasi berupa 7 Pesan SIKEREI sebagai pesan kesehatan berbasis lokal, yang diambil dari akronim SIKEREI.

Definisi Kemitraan Bidan-Dukun sendiri merupakan kerjasama bidan dan dukun yang saling menguntungkan dengan prinsip keterbukaan, kesetaraan dan kepercayaan dalam upaya untuk menyelamatkan ibu dan bayi, dengan menempatkan bidan sebagai penolong persalinan dan mengalihfungsikan dukun dari penolong persalinan menjadi mitra dalam merawat ibu dan bayi pada masa nifas, dengan berdasarkan kesepakatan yang telah dibuat antara bidan dan dukun serta melibatkan seluruh unsur/elemen masyarakat yang ada.

Di masa Pandemi Covid-19 sekarang ini, ungkap Lahmuddin, kunjungan balita sakit ke fasiltas pelayanan kesehatan (Fasyankes) terjadi peningkatan dibanding periode yang sama tahun lalu. Januari s/d Juli 2019, jumlah kunjungan mencapai 3.974 orang dan di 2020 ini menjadi 4228 orang. Adapun jumlah kematian anak balita sama dengan periode tahun lalu yakni 2 orang. Sementara jumlah bayi dilahirkan hidup mencapai 959 jiwa, dengan kematian ibu 3 orang.

Selanjutnya, terdapat penurunan jumlah kunjungan di Posyandu yang disebabkan adanya pembatasan sosial pada masa pandemi. Pada semester I tahun 2019 sebanyak 77%, sedangkan pada semester I tahun 2020 sebanyak 54,8%.

Lahmuddin mengakui, khusus kesehatan ibu dan anak masih ada beberapa kendala yang menjadi perhatian Dinkes Mentawai. “Yakni, kontak pertama kehamilan masih jarang di trimester 1 kehamilan. Memeriksa kehamilan hanya bila ada keluhan,” terangnya. Selain itu, juga enggan dirujuk ke faskes tingkat lanjut bila ditemui resiko tinggi dengan alasan utama adalah faktor ekonomi. “Karena itu, Dinkes Mentawai terus gencar melakukan upaya promosi dengan juga berkolaborasi melibatkan tokoh masyarakat adat, tokoh agama, partai, organisasi profesi, NGO, swasta, dan lainnya,” pungkasnya.