Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dinilai perlu memperkuat budaya ramah (Hospitable culture) dalam menjalankan roda bisnisnya, terlebih bagi BUMN yang bergerak di sektor pelayanan publik. Hospitable culture yang dimaksud yakni kemampuan memberikan pelayanan dan ikatan yang optimal kepada setiap pemangku kepentingan sebagai orientasi hospitaliti yang strategis. Hal tersebut diungkapkan Staf Khusus II Menteri BUMN Bambang Eka Cahyana saat usai menyampaikan paparan ujian akhir disertasi pada program Doktor Ilmu Administrasi dengan konsentrasi Ilmu Administrasi Bisnis di Universitas Brawijaya Malang, Kamis (3/10).
Menurut Bambang Eka, disamping mengejar keuntungan, penting bagi BUMN untuk bisa menetapkan tujuan lain yang mencakup kepentingan aspek ekonomi, sosial, politik negara dan lingkungan, yang melibatkan juga partisipatif masyarakat sebagai wujud pelayanan maksimal perusahaan kepada masyarakat. “Hospitable culture penting bagi BUMN karena ini merupakan suatu kapabilitas yang harus dimiliki BUMN di tengah perubahan landscape bisnis yang terjadi. Tanpa hospitable culture, BUMN akan mengalami kesulitan jangka panjang dalam menjalankan bisnis dan sulit dalam mempertahankan reputasi korporasi,” kata Bambang Eka.
Dalam disertasinya, ia pun mengungkapkan bahwa saat ini banyak BUMN yang hospitalitinya masih bisa lebih ditingkatkan. Merujuk pada sampel disertasinya pada BUMN bidang kepelabuhan, Bambang Eka menyatakan bahwa diperlukannya transformasi organisasi bagi sebuah perusahaan untuk mencapai hospitable culture yang optimal. Dimana dalam transformasi terdapat dua faktor penting.
Pertama pada aspek kepemimpinan strategik yang harus mengadopsi prinsip ambidextrous leadership yang mampu menyeimbangkan orientasi jangka pendek dengan orientasi jangka panjang. Kedua yaitu tata kelola organisasi yang membuka ruang bagi partisipasi publik dalam penetapan kebijakan strategis.














