Akses Jalan di Tengah Hutan, Menangkal Dampak Buruk Karhutla

87
foto: KLH, Taman Nasional Alas Purwo

Intensitas hujan yang turun di berbagai daerah masih tinggi. Di Sumatera misalnya, saat ini beberapa daerah masih berada dalam puncak musim hujan. Meski berada di puncak musim hujan, beberapa provinsi sudah bersiap-siap meningkatkan kewaspadaanya terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Bahkan di Maret 2021 ini Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sudah menetapkan status Darurat Karhutla 2021.

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan, kebijakan ini bertujuan untuk mengantisipasi potensi kebakaran lahan, terutama di kawasan yang rawan terbakar. Salah satu yang perlu disiapkan dalam menghadapi Karhutla adalah membuat akses atau jalan darurat di kawasan rawan kebakaran. Dari pengalaman terdahulu, dalam mengatasi Karhutla, akses jalan yang tidak memadai menjadi salah satu sebab, kebakaran menjadi besar dan meluas.

Seperti kebakaran hutan yang terjadi di kawasan Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumsel. Titik api diketahui muncul pada Pebruari 2021 Petugas kesulitan untuk menaklukkan api di lahan gambut itu. Penyebabnya akses jalan menuju lokasi terbilang sangat sulit.

Berkaca pada kasus ini, akses atau jalan menuju kawasan rawan karhutla memang harus disiapkan. Akses ini dibutuhkan, agar petugas pemadam kebakaran bisa langsung memadamkan api, sedini mungkin. Jika kebakaran sudah membasar dan meluas, makin sulit diatasi.

Ada cara lain memadamkan api Karhutla  melalui udara, namun ini tidak efektif. Pasalnya bom air dari udara ini, tidak efektif menjangkau titik api. Air yang dilapaskan dari udara sering menjauh terbawa angin.

Air yang ditumpahkan dari udara itu juga terhalang oleh pohon-pohon tinggi, sehingga tidak jatuh ke titik api. Air juga hanya menyentuh permukaan dari lahan yang terbakar Padahal, api yang membakar lahan gambut juga membakar akar-akar tanaman yang ada di dalam tanah.

Berita Lainnya  Tol Manado-Bitung Siap Beroperasi 2020

Cara efektif untuk mengatasi kebakaran, khususnya di lahan gambut adalah dengan mengalirkan air untuk menggenangi lahan tersebut. Untuk itu dibutuhkan akses jalan ke lokasi kebakaran.

Akses jalan yang ada didalam hutan ini sebenarnya juga berfungsi sebagai jalur sekat bakar, agar api tidak dengan cepat merambat ke mana-mana. Teknik penaggulangan kebakaran hutan seperti ini terbukti efektif mengurangi dampak yang ditimbulkan dari kebakaran hutan di Taman Nasional Alas Purwo, Banyuwangi Jawa Timur

Bencana Karhutla memang tidak bisa dianggap enteng. kerugaian yang ditumbulkan amat besar. Bank Dunia (World Bank) pernah menghitung, total kerugian yang ditanggung Indonesia saat karhutla di 2019 mencapai USD5,2 miliar atau setara senilai Rp 72,95 triliun. Angka tersebut setara dengan 0,5% dari PDB Indonesia.

Kebakaran hutan tidak hanya memusnahkan berbagai species flora dan fauna. Asap tebal akibat kebakaran jadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Asap pekat itu juga menyebar ke negara-negara tetangga. Indonesia pun mendapat citra buruk di mata dunia internasional.

Upaya antisiapsi dengan cara mencegah dan memadamkan titik api sedini mungkin, menjadi acara yang efektif untuk meminimalisir dampak buruk dari Karhutla.