Pentingnya Akses Menuju Titik Api

736
Untuk menjangkau titik api, petugas terpaksa harus memutar ke arah Jambi dan baru bisa masuk ke lokasi lahan yang terbakar. Foto : pexels-vladyslav-dukhin

geliatnusantara.com – Kebakaran hutan seolah menjadi ritual tahunan di Indonesia. Bencana ini tak hanya menyiksa masyarakat di wilayah hutan itu berada (Kalimantan dan Sumatera) melainkan juga menimbulkan keluhan dari negeri jiran, Singapura dan Malaysia. Wahana Lingkungan Hidup Sumatera Selatan (Walhi Sumsel) mencatat hasil pemantauan lapangan dalam kurun waktu lima tahun (2015-2020), terdapat 1,012. Juta hektare lahan dan hutan terbakar.

Betul, sejak tahun 2015 hingga tahun lalu areal kebakaran hutan berhasil ditekan hingga 90 persen. Sebagai gambaran luas kebakaran hutan pada tahun 2015 di seluruh Indonesia mencapai 2,61 juta hektare, menukik menjadi 296.942 hektare tahun lalu. Data dan fakta itu tentu tak boleh membuat semua pemangku kepentingan terlena. Sikap waspada harus selalu dikedepankan.

Meski saat ini musim hujan masih melanda seluruh wilayah Indonesia, toh titik api yang biasanya muncul di musim kemarau (BMKG memperkirakan musim kemarau di Sumsel terjadi bulan Juni-Juli) sudah timbul di Sumsel. Persisnya di kawasan Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba). Petugas tak mudah menaklukkan api di lahan gambut itu. Penyebabnya akses jalan menuju lokasi terbilang sangat sulit.

Untuk menjangkau titik api, petugas terpaksa harus memutar ke arah Jambi dan baru bisa masuk ke lokasi lahan yang terbakar.

Guna mengantisipasi musim kemarau, pemerintah setempat telah membentuk tim patroli untuk memantau lokasi yang rawan terbakar. Gubernur sumsel Herman Deru menyiapkan dana Rp30,23 miliar untuk penanggulangan kebakaran. Dana ini diperuntukkan membangun sekat kanal, sumur bor serta peralatan pemadaman.  

Selain itu, sejak tahun lalu Sumsel sudah gencar menggandeng masyarakat mencegah kebakaran hutan. Bentuk pencegahan itu mulai dari pembentukan program desa Makmur Peduli Api, Masyarakat Peduli Api, pos bersama, patroli gabungan, menentukan peta rawan kebakaran dan identifikasi area prioritas.  

Mengacu pada pengalaman sulitnya petugas di Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Muba, menjangkau wilayah kebakaran, agaknya pembuatan akses ke daerah rawan perlu dipikirkan matang-matang. Dengan tersedianya akses, tentu saja petugas akan lebih mudah dalam melakukan pencegahan maupun memadamkan api.(RLS)