Benci tapi Rindu Mutiara Hitam

317

Ditengah tren penggunaan energi terbarukan, permintaan batu bara dunia masih tinggi.

geliatnusantara.com – Benci tapi rindu. Begitulah sikap masyarakat dunia terhadap batu bara saat ini. Di tengah upaya global mengurangi penggunaan batu bara, nyatanya si Mutiara Hitam masih menjadi sumber pembangkit listrik terbesar di dunia. Badan Energi International atau IEA pada 2019 menyatakan bahwa batu bara memegang 38 persen dari keseluruhan pangsa sumber pembangkit listrik global.

Produksi batu bara dunia pun meningkat dari tahun ke tahun. Sementara, cadangan batu bara global tercatat ada lebih dari satu triliun ton.

Indonesia sendiri tercatat sebagai penghasil batu bara terbanyak keempat secara global. Produksi batu bara Indonesia mencapai puncaknya pada sekitar tahun 2005 sampai tahun 2010. Pada tahun 2018, produksi batu bara Indonesia sebesar 549 juta ton, terbanyak dikeruk dari Kalimantan. Berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Indonesia, cadangan batubara Indonesia diperkirakan habis kira-kira dalam 83 tahun mendatang apabila tingkat produksi saat ini diteruskan.

Sektor pembangkit listrik adalah konsumen batu bara terbesar di Indonesia. Peningkatan konsumsi batu bara sangat signifikan di sektor pembangkit listrik, yaitu dari 56 juta ton pada 2006 dan diperkirakan menjadi 123,2 juta ton pada 2025. Sementara Indonesia sendiri memiliki sumberdaya batu bara sebesar 149,009 miliar ton dan cadangan sebesar 37,604 miliar ton.

Berkaitan dengan cadangan batu bara global, Indonesia saat ini menempati peringkat ke-9 dengan sekitar 2.2 persen dari total cadangan batu bara global terbukti berdasarkan BP Statistical Review of World Energy. Sekitar 60 persen dari cadangan batu bara total Indonesia terdiri dari batu bara kualitas rendah yang lebih murah (sub-bituminous) yang memiliki kandungan kurang dari 6100 cal/gram.

Ekspor batu bara Indonesia berkisar antara 70 sampai 80 persen dari total produksi, sisanya dijual di pasar domestik.

Indonesia memiliki cadangan batu bara kualitas menengah dan rendah yang melimpah. Jenis batu bara ini dijual dengan harga kompetitif di pasar internasional.

Indonesia memiliki posisi geografis strategis untuk pasar raksasa negara-negara berkembang yaitu Cina dan India. Permintaan untuk batu bara kualitas rendah dari kedua negara ini telah naik tajam karena banyak pembangkit listrik bertenaga batu bara baru yang dibangun untuk mensuplai kebutuhan listrik penduduknya yang besar.

Berita Lainnya  Potensi Batubara dan Pembangunan Infrastruktur

Pangsa pasar terbesar memang disumbang dari India dan Tiongkok yang mencapai 50%-60% dari total ekspor batu bara nasional. Lalu, disusul negara kawasan Asia Tenggara yang mencapai 20%, diikuti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan kumulatif sekitar 20%.

Di puncak kejayaannya, batu bara menyumbang sekitar 85 persen dari total penerimaan negara dari sektor pertambangan.

Walau kesadaran global telah dibangun untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, perkembangan sumber energi terbarukan tidak menunjukkan indikasi bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil (terutama batu bara) akan menurun secara signifikan dalam waktu dekat.
Permintaan batu bara di kawasan Pasifik diperkirakan masih akan terus meningkat, setidaknya hingga 2035.

Pada 2035 permintaan impor batu bara di kawasan Pasifik diperkirakan berpotensi mencapai 900 juta ton, naik dari permintaan impor tahun ini sekitar 800 juta ton.

Diperkirakan permintaan impor batu bara dari negara-negara di Samudra Hindia meningkat 100 persen dari saat ini yang hanya 100 juta ton. Sementara order dari Asia Timur ditaksir masih mencapai 400 juta ton. Angka ini menurun 100 juta ton dari permintaan saat ini.

Begitu juga dengan permintaan impor batu bara di Asia Tenggara. Pesanan dari kawasan ini diperkirakan meningkat menjadi sekitar 250 juta ton pada 2035 dari sekitar 150 juta ton pada tahun ini.

Singkat kata, Cina dan India masih membutuhkan batu bara. Masih ada prospek sampai 40 tahun. Ada pun Jepang, Korea Selatan dan Taiwan, meski mulai mengurangi konsumsinya, paling tidak masih butuh batu bara hingga satu dekade lagi.

 

Batu Bara Masih Menjadi Primadona

Berikut gambaran ringkas kebutuhan batu bara di negara-negara importir terbesar dari Indonesia:

Cina
Cina masih menjadi pengguna batu bara tertinggi di dunia sebagai bahan bakar utama pembangkit energi. Negeri Tirai Bambu mengkonsumsi batu bara sebesar 1.907 MTOE per tahun.

Konsumsi batu bara di China, sebagian besar justru disumbangkan dari daerah pedesaan. Hal itu terlihat dari emisi rumah tangga pada tahun 2015 disumbangkan dari desa dengan jumlah lebih dari 100 MTCO2, sedangkan emisi di kota hanya di kisaran angka 30 MTCO2. Sebagian besar batu bara di Negeri Tirai Bambu digunakan untuk industri pembangkit listrik dengan kisaran 53,85 persen, diikuti oleh industri baja dan industri kimia.

Berita Lainnya  Investor Asing Diminta Pahami Aturan Bisnis Pelayaran Lokal

Konsumsi batu bara yang besar menjadi salah satu faktor Cina banyak berinvestasi pada tambang batu bara di Indonesia. Selain itu harga batu bara masih juga dinilai kompetitif, walaupun sekarang banyak tren negatif mengenai batu bara mengingat memiliki dampak yang buruk bagi lingkungan.

Cina saat ini masih menjadi penghasil energi yang besar namun juga mengkonsumsi energi yang besar pula. Maklum populasi penduduk negeri ini memang berpredikat terbesar di dunia.
Sebesar 69 persen energi di Cina masih dihasilkan dari batu bara, sedangkan konsumsi sendiri Cina memiliki kecenderungan tren yang meningkat terhadap batubara yaitu sekitar 59 persen.

India
Posisi kedua ditempati oleh India dengan jumlah konsumsi per tahun adalah 452 MTOE per tahun. Sejak 2013, total konsumsi India telah menjadi yang tertinggi ketiga di dunia setelah Cina dan Amerika Serikat (AS). India adalah konsumen batubara nomor dua di tahun 2017 setelah Cina. India menempati urutan ketiga dalam konsumsi minyak dengan 221 juta ton pada 2017 setelah Amerika Serikat dan Cina. Negeri Hindustan tercatat sebagai importir energi netto untuk memenuhi hampir 45% dari total energi primernya.

Untuk Cina dan India, konsumsi yang tinggi mencerminkan bahwa saat ini terdapat peningkatan permintaan listrik yang menjadikan batu bara sebagai sumber utama pembangkit listrik.

Amerika Serikat
Di posisi ketiga ditempati oleh AS. Paman Sam berencana akan mengonsumsi lebih banyak batu bara sebagai bahan bakar pembangkit listrik pada tahun ini. Rencana itu bakal semakin mengerek permintaan dunia dan mendorong lebih tinggi harga. Energy Information Agency mengatakan bahwa pembangkit listrik AS akan mengonsumsi setidaknya 16 persen lebih banyak batu bara pada tahun ini dibandingkan dengan 2020. Kemudian, AS akan meningkatkan permintaan setidaknya 3 persen lagi pada 2022.

Adapun, peningkatan konsumsi batu bara oleh AS disebabkan oleh kenaikan harga gas alam dan sebagai salah satu proses pemulihan ekonomi dari pandemi Covid-19.

Berita Lainnya  PLN Operasikan SPKLU Pertama di NTT, Ekosistem Kendaraan Listrik Bisa Lebih Cepat

Jepang
Saat tren global terhadap dekarbonisasi semakin meningkat, PLTU batu bara tetap diposisikan sebagai salah satu sumber tenaga listrik utama di Jepang. Betul, hingga tahun 2030 peran batubara akan semakin berkurang secara bertahap, yaitu tahun 2010 sebesar 28 persen, tahun 2016 sebesar 33 persen dan di 2030 sebesar 26 persen.

Pada satu dekade ke depan, batubara diperkirakan perannya sedikit di bawah LNG (27 persen), tetapi lebih besar dibanding nuklir (20-22 persen) dan porsi renewable 22-24 persen. Sehingga berdasarkan proyeksi pemerintah Jepang tersebut, Japan’s Energy for New Era (JERA) –produsen istrik terbesar di Negeri Samurai- yakin bahwa batubara akan tetap menjadi sumber bahan bakar utama di Jepang.

JERA di 2018 mengimpor dari Indonesia sekitar 23 persen batubara (atau 4,9 juta ton), dari Australia 51 persen, Rusia 5% dan Amerika Serikat 21%. Porsi impor batu bara dari Indonesia di tahun 2018 tersebut berkurang dibanding sebelumnya di 2016 sekitar 31 persen atau sekitar 6.7 juta ton Sedangkan impor JERA dari Australia mencakup 60% dari total impor perusahaan energi Jepang tersebut. Adapun di 2019, JERA meningkatkan pembelian batu bara dari AS dan Rusia.

Korea Selatan
Korsel memulai transisinya menuju energi yang lebih bersih dalam pasokan listrik pada 2017. Langkah tersebut bertujuan untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan dari sekitar 6% menjadi 20% pada 2030. Dan pada sepuluh tahun kemudian energi terbarukan akan digenjot hingga 35% dari total pasokan energi.

Rencana energi 2019 diperkirakan merefleksikan dorongan untuk lebih banyak energi terbarukan, dan penggunaan energi berbahan bakar gas, dengan mengorbankan batu bara yang diimpor dari Indonesia, Australia, dan Rusia. Korea Selatan mengoperasikan sekitar 60 pembangkit listrik tenaga batu bara, mayoritas dimiliki oleh pemerintah. Tahun lalu memasok sekitar 42% listrik nasional.

Selama 15 tahun ke depan, pemerintah pada awalnya merencanakan memasang peralatan anti polusi untuk 20 pembangkit listrik. Namun, hal itu ditangguhkan karena mahalnya fasilitas antipolusi. Ironisnya perubahan itu terjadi bahkan ketika tujuh pembangkit listrik tenaga batu bara baru akan rampung pada 2022. Alhasil, kapasitas berbahan bakar batu bara akan meningkat di tahun-tahun mendatang sebelum berkurang pada 2030.