GN-KPA, Kunci Penyelamatan Sungai Citarum

565
GN-KPA, Kunci Penyelamatan Sungai Citarum

Kabid OP Sungai Sumber Daya Air Citarum, Joko Ahmad Salim ST MT, mengatakan, saat ini Sungai Citarum menghadapi berbagai masalah pelik. Diantaranya, kerusakan lahan di kawasan hulu, buruknya kondisi kualitas air, pola budidaya petani di kawasan hulu yang tidak mengedepankan konservasi, sampai pemanfaatan ruang perairan yang tidak terkendali.

Nah, untuk mengatasi berbagai persoalan tersebut, salah satu cara penanganannya adalah dengan menggalakkan Gerakan Nasional-Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA). Dan, indikator keberhasilan pelaksanaan lapangan GN-KPA antara lain terbangunnya kapital sosial yaitu masyarakat sebagai pelaku utama dalam GN-KPA.

rehabilitasi lahan dengan terasering dan penghijauan, menjaga sempadan di wilayah OXBOW Dara Ulin yang berada di dua wilayah Kabupaten Bandung serta Kota Cimahi

“Keadaan itu diwujudkan melalui rehabilitasi lahan dengan terasering dan penghijauan, menjaga sempadan di wilayah OXBOW Dara Ulin yang berada di dua wilayah Kabupaten Bandung serta Kota Cimahi,” kata Joko seraya menambahkan bahwa peran pemerintah melalui Kementerian PUPR BBWS Citarum dan komunitas peduli sungai, akademisi, serta masyarakat sangat penting dalam menjaga dan menata sempadan sungai.

Hal senada dilontarkan Sekretariat GN-KPA Kementerian PUPR, Ir Sumudi. Ia katakana, pentingnya konsep pola kerjasama yang harus dibangun dalam mewujudkan terkait kolaborasi, kedudukan, kekuatan sebagai panduan implementasi GN-KPA untuk dapat menguraikan lebih rinci prosedur dan mekanisme koordinasi, agar aksi dan pelaksanaan di lapangan dapat dipadukan dengan baik.

Menurutnya, pihaknya saat ini sedang berupaya secara komprehensif dan terpadu dalam penyelamatan air dan sumber daya air demi keberlanjutan generasi mendatang. ”Gerakan ini dilatarbelakangi kesadaran telah terjadinya perubahan drastis tutupan lahan sumber daya air (SDA) tampak pada tingkat kritis. Oleh karena itu kegiatan rehabilitasi lahan dan penghijauan, serta inovasi teknologi tepat guna, merupakan keharusan yang dilakukan oleh Citarum Harum wilayah sektor 8 yang dikomandani oleh Kolonel Bellyuni,” jelasnya.

Berita Lainnya  Koleksi Terbaru Dari Desainer Tina Andrean

Ia menambahkan, Citarum merupakan sungai strategis di Jawa Barat yang  mengalir dari hulunya di wilayah Kertasari, Kabupaten Bandung, dan bermuara ke laut Jawa di Muara Gembong yang kurang lebih sepanjang 200 km. Di samping itu Citarum juga  dimanfaatkan sebagai sumber pengairan pertanian, perikanan, dan perkebunan. “Paling penting lagi, sebagai sumber air minum masyarakat sampai ke wilayah DKI Jakarta,” ujarnya. 

Sekadar diketahui, dalam rangkaian kegiatan ini ada beberapa komunitas yang terlibat yang tergabung dalam wadah TKPSDA (Tim Koordinasi Pengeloaan Sumber Daya Air) di wilayah Sungai Citarum.

Yayat Yuliana SE MM, selaku PPK OP SDA BBWS Citarum pada kesempatan diskusi menyampaikan pentingnya pengelolaan OXBOW Dara Ulin oleh komunitas dan masyarakat. Ini merupakan bagian dari sifat yang ditanamkan secara kultur budaya sunda dengan “Urus Lembur, Akur Jeung Dulur, Panjeg Dina Galur” atau melakukan segala sesuatu dengan gotong royong sesuai dengan kondisi ekosistem pendukungnya.

Kegiatan GN-KPA 2020 dilakukan yang bertepatan dengan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober kemarin. Terkait ini, secara subtansional peran pesantren sangat penting dalam mendukung langsung pengawasan kondisi OXBOW Dara Ulin yang berdekatan dengan pondok pesantren Hidayatul Hikmah di Desa Gajah Mekar.

Yayat Yuliana SE MM, selaku PPK OP SDA BBWS Citarum pada kesempatan diskusi menyampaikan pentingnya pengelolaan OXBOW Dara Ulin oleh komunitas dan masyarakat.

Seperti dikatakan Rd KH Asep Muhammad Hadimi, Pimpinan Ponpes Hidayatul Hikmah, GN-KPA sesuai dengan tuntunan Al Qur’an di surat Albaqoroh ayat 30. “Alloh SWT menciptakan manusia sebagai khalifah/pemimpin di muka bumi untuk mengelola bumi dan isinya.“ (IWS)