Jakarta, 17 Mei 2025 – Uni Eropa (UE) dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) melangkah lebih jauh dalam memperkuat kerja sama riset melalui pelaksanaan SCOPE-HE Research Connectivity Workshop yang didanai Uni Eropa. Acara ini berlangsung pada 14–15 Mei 2025 di Jakarta, Indonesia.
Diselenggarakan di bawah inisiatif EU-ASEAN Sustainable Connectivity Package – Higher Education Programme (SCOPE-HE), lokakarya ini mempertemukan perwakilan universitas dari Eropa dan ASEAN, pembuat kebijakan, serta pakar internasional. Acara ini menjadi tonggak penting dalam membangun kemitraan akademik lintas kawasan dan mendorong inisiatif riset bersama di bidang-bidang strategis seperti transisi hijau, transformasi digital, dan ekonomi biru.
Komitmen Menjawab Tantangan Global
Diluncurkan pada Juli 2024, SCOPE-HE adalah program senilai €9,3 juta yang diimplementasikan oleh Nuffic (lembaga Belanda untuk internasionalisasi pendidikan) bekerja sama dengan German Academic Exchange Service (DAAD). Tujuan utamanya adalah meningkatkan mobilitas mahasiswa dan akademisi, memperkuat jejaring antar universitas, serta meningkatkan daya saing lulusan di pasar kerja melalui kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi di ASEAN dan Uni Eropa.
Duta Besar Uni Eropa untuk ASEAN, H.E. Sujiro Seam, menegaskan bahwa riset dan inovasi merupakan salah satu prioritas utama dalam ASEAN-EU Strategic Partnership 2023–2027. Ia mengucapkan selamat kepada tiga klaster universitas terpilih dari total 120 proposal yang masuk. Menurutnya, jaringan universitas lintas kawasan EU-ASEAN akan menjadi cara efektif dan berkelanjutan untuk menghadapi tantangan global secara bersama-sama.
Ia juga menyoroti program unggulan Uni Eropa di bidang riset dan inovasi, yaitu Horizon Europe, yang memiliki anggaran sebesar €95,5 miliar. Para peneliti ASEAN pun didorong untuk turut ambil bagian dalam program ini.
Turut hadir dalam pembukaan adalah H.E. San Lwin, Wakil Sekretaris Jenderal Komunitas Sosial Budaya ASEAN; Dr. Kai Sicks, Sekretaris Jenderal DAAD; dan Brianda Zoet, Team Leader dan Pelaksana Manager Pilar Eropa dari Nuffic.
Dalam sambutannya, H.E. San Lwin berharap workshop ini akan melahirkan jaringan dinamis antar institusi pendidikan tinggi lintas kawasan, yang mampu berbagi praktik terbaik dan menciptakan komunitas riset yang berdampak nyata bagi masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya diplomasi sains dan ekosistem riset terbuka yang kolaboratif tanpa batas negara.
Tiga Klaster Riset Terpilih
Sorotan utama kegiatan ini adalah pengumuman resmi tiga klaster riset baru yang memperoleh SCOPE-HE Academic Connectivity Grant untuk memperkuat kolaborasi riset:
- GreenTrans-EDU – Dipimpin oleh Ilmenau University of Technology (Jerman), proyek ini melibatkan enam universitas dari Prancis, Jerman, Indonesia, dan Filipina. Fokus utamanya adalah riset dan pendidikan untuk keberlanjutan.
- DIGIHAZ – Dipimpin oleh University of Alicante (Spanyol), klaster ini terdiri dari institusi pendidikan tinggi dari Spanyol, Yunani, Malaysia, dan Filipina. Proyek ini bertujuan meningkatkan kapasitas riset dalam menghadapi risiko bencana alam.
- STABLE – Dipimpin oleh IPB University (Bogor, Indonesia), proyek ini menargetkan modernisasi pendidikan kelautan dan pengembangan ekonomi biru melalui kolaborasi dengan lima institusi dari Jerman, Indonesia, Malaysia, dan Belanda.
Ketiga klaster ini akan menjadi bagian penting dalam mendukung Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030 serta memperkuat jejaring riset dan pendidikan tinggi antara ASEAN dan Uni Eropa.
Acara selama dua hari ini juga menghadirkan sesi panel dan diskusi paralel seputar diplomasi sains, pengelolaan keuangan dan administratif yang akuntabel, serta strategi integrasi riset ke dalam pengajaran. Semua ini dirancang sebagai fondasi bagi ekosistem riset EU-ASEAN yang dinamis, transparan, dan setara.
Program SCOPE-HE
Program EU-ASEAN Sustainable Connectivity Package – Higher Education Programme (SCOPE-HE) merupakan inisiatif bersama Uni Eropa dan ASEAN yang berlangsung dari Februari 2024 hingga Januari 2028 dengan total pendanaan sebesar €9,3 juta. Program ini dikelola oleh Nuffic bersama DAAD, dan menjadi kelanjutan dari program-program sebelumnya seperti SHARE dan ERASMUS+.
Program SCOPE-HE berfokus pada peningkatan pertukaran dan konektivitas dalam pendidikan tinggi, penelitian, serta pendidikan dan pelatihan vokasi di kawasan ASEAN maupun antara ASEAN dan Uni Eropa. Program ini memberikan perhatian khusus pada tiga bidang utama: transisi hijau, transformasi digital, dan ekonomi biru.
Beberapa kegiatan utamanya meliputi: memfasilitasi mobilitas mahasiswa dan akademisi, memperkuat jaringan antar universitas untuk mendorong kolaborasi riset, serta meningkatkan kesiapan kerja lulusan dengan menghubungkan institusi pendidikan vokasi dengan sektor swasta.
Melalui upaya-upaya ini, SCOPE-HE bertujuan membangun ekosistem pendidikan tinggi yang lebih terhubung dan dinamis—memberdayakan generasi muda dan memperkuat fondasi sosial serta ekonomi kawasan secara berkelanjutan.(SP)